the illusion of control
mengapa kita merasa bisa memengaruhi hasil lemparan dadu
Coba ingat-ingat lagi momen saat kita sedang bermain Monopoli, Ular Tangga, atau board game sejenisnya. Saat kita butuh angka enam untuk menang, apa yang biasanya kita lakukan? Kita mengambil dadu, menggenggamnya erat-erat, meniupnya pelan, lalu melemparkannya dengan tenaga ekstra. Sebaliknya, saat kita hanya butuh angka satu agar tidak masuk penjara, kita menjatuhkan dadu itu pelan-pelan dari ujung jari.
Sadarkah teman-teman betapa lucunya perilaku ini?
Secara logika, kita semua tahu bahwa dadu adalah benda mati. Tidak ada urusan fisika yang menghubungkan antara tiupan napas kita, kekuatan lemparan, dengan probabilitas angka yang akan keluar. Peluang keluarnya angka enam akan selalu satu banding enam. Murni acak. Murni probabilitas. Namun, entah kenapa, saat dadu itu meluncur dari tangan, kita merasa ada setitik sihir di mana niat kita memengaruhi realitas. Kita merasa memegang kendali. Mengapa otak kita yang canggih ini bisa memercayai sesuatu yang begitu tidak rasional?
Ternyata, kita tidak sendirian dalam hal ini. Perilaku meniup dadu hanyalah satu dari ribuan contoh betapa seringnya kita menipu diri sendiri setiap hari.
Coba perhatikan saat kita sedang terburu-buru menunggu lift. Kita menekan tombol lift berkali-kali dengan cepat. Padahal, sistem elektronik lift sudah merekam tekanan pertama kita. Menekannya sepuluh kali tidak akan membuat kotak besi itu meluncur lebih cepat. Sama halnya ketika kita memakai "kemeja keberuntungan" saat wawancara kerja, atau menonton tim sepak bola favorit dengan posisi duduk tertentu karena takut kalau kita pindah posisi, tim kita akan kebobolan.
Pada tahun 1975, seorang psikolog dari Universitas Harvard bernama Ellen Langer meneliti fenomena aneh ini. Ia menamainya dengan istilah illusion of control atau ilusi kendali. Langer menemukan bahwa kita, sebagai manusia, memiliki kecenderungan bawaan untuk melebih-lebihkan kemampuan kita dalam memengaruhi peristiwa yang sebenarnya murni di luar kendali kita.
Kita sangat benci menjadi korban keadaan. Oleh karena itu, otak kita menciptakan semacam dongeng kecil bahwa kita adalah sutradara dari setiap kejadian. Namun, pertanyaan yang lebih menggelitik mulai muncul: jika ilusi ini adalah sebuah kecacatan logika, mengapa otak kita didesain seperti ini?
Untuk menjawabnya, mari kita membedah isi kepala kita sendiri. Teman-teman, otak kita adalah sebuah mesin pencari pola yang luar biasa rakus. Secara neurologis, otak kita sangat membenci ketidakpastian.
Ketidakpastian memicu pelepasan hormon kortisol, hormon stres yang membuat dada kita berdebar dan pikiran menjadi kacau. Sebaliknya, ketika otak berhasil menemukan pola—atau setidaknya merasa menemukan pola—area di otak yang bernama striatum akan melepaskan dopamin. Dopamin inilah yang memberikan rasa tenang, puas, dan aman.
Jadi, ketika kita meniup dadu dan kebetulan angka enam benar-benar keluar, sirkuit dopamin kita meledak kegirangan. Otak kita langsung mencatat: "Aha! Tiupan sama dengan angka enam!" Ia mengabaikan ratusan kali lemparan lain di mana tiupan kita gagal menghasilkan apa-apa. Otak kita melakukan seleksi fakta agar ilusi kendali itu tetap hidup.
Namun, di sinilah letak misteri terbesarnya. Ilmu biologi mengajarkan bahwa evolusi biasanya akan membuang sifat-sifat yang tidak berguna atau merugikan. Jika illusion of control ini membuat kita tidak rasional dan sering mengambil keputusan bodoh, mengapa alam semesta tetap mewariskan gen ilusi ini kepada kita selama ratusan ribu tahun?
Jawabannya cukup mengejutkan dan mungkin akan mengubah cara kita memandang diri sendiri. Ilusi ini ternyata bukan sebuah kelemahan. Ia adalah mekanisme bertahan hidup yang paling brilian yang pernah diciptakan oleh evolusi.
Bayangkan kita adalah leluhur manusia yang hidup di padang sabana Afrika puluhan ribu tahun lalu. Dunia saat itu sangat brutal dan acak. Penyakit datang tiba-tiba, cuaca tidak bisa diprediksi, dan binatang buas mengintai dari balik semak-semak. Jika leluhur kita sepenuhnya sadar bahwa mereka hanyalah debu kecil yang tidak punya kendali apa-apa atas alam semesta, mereka akan lumpuh oleh ketakutan. Mereka akan mengalami depresi eksistensial, diam di dalam gua, dan akhirnya punah.
Illusion of control adalah penawar dari keputusasaan itu. Ilusi ini memberikan leluhur kita semacam keberanian buatan atau agency. Ketika mereka melakukan tarian pemanggil hujan, mereka merasa sedang mengambil tindakan. Ketika mereka mengira gemerisik daun adalah harimau (meski ternyata cuma angin), mereka bersiap lari.
Secara sains evolusioner, lebih baik kita terlalu banyak melihat pola dan merasa memegang kendali, daripada bersikap pasrah pada keacakan alam. Otak kita berbohong kepada kita, semata-mata agar kita punya alasan untuk bangun esok hari, mencari makan, dan terus bertahan hidup. Ilusi ini adalah pelindung mental kita dari realitas kosmos yang dingin dan tak acuh.
Jadi, mari kita tarik napas sejenak. Menyadari bahwa kita hidup dalam ilusi kendali seharusnya tidak membuat kita merasa bodoh. Sebaliknya, fakta ini seharusnya menumbuhkan rasa empati yang besar—baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Kita semua hanyalah makhluk rapuh yang mencoba mencari secercah rasa aman di dunia yang penuh keacakan.
Tentu saja, kita tetap harus menggunakan senjata andalan kita: berpikir kritis. Ilusi kendali menjadi berbahaya ketika ia masuk ke ranah yang fatal. Misalnya, ketika kita merasa memegang kendali di meja judi dan mempertaruhkan tabungan masa depan, atau ketika kita menolak perawatan medis yang teruji secara sains karena merasa bisa mengendalikan penyakit dengan sugesti pikiran semata. Di titik-titik krusial inilah, kita harus bisa menyalakan logika dan berkata pada otak kita, "Terima kasih sudah mencoba melindungiku, tapi kali ini biarkan sains dan probabilitas yang bicara."
Namun di luar hal-hal fatal tersebut? Lakukan saja.
Jika meniup dadu di permainan Monopoli membuat kita merasa lebih gembira, tiuplah. Jika memakai kaus kaki bolong kesayangan membuat kita lebih percaya diri saat ujian, pakailah. Dunia ini sudah cukup keras dan acak, teman-teman. Terkadang, sedikit ilusi yang tidak merugikan siapa pun adalah satu-satunya pelukan hangat yang kita butuhkan untuk terus melangkah maju.